<p style="box-sizing: border-box; margin: 0px 0px 10px; font-size: 15px; color: rgb(0, 0, 0); font-family: Montserrat, sans-serif; text-align: justify;"> Kabar gembira datang dari dunia ilmu pengetahuan yang telah menemukan cara untuk memanfaatkan limbah batubara menjadi produk yang sangat bermanfaat bahkan ramah lingkungan. Pusat Inovasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) dan Hakko Industry Co, Ltd memanfaatkan limbah batubara menjadi bahan baku beton. Beton itu mempunyai kekuatan dan waktu pematangan lebih cepat dan ramah lingkungan daripada beton konvensional.</p> <p style="box-sizing: border-box; margin: 0px 0px 10px; font-size: 15px; color: rgb(0, 0, 0); font-family: Montserrat, sans-serif; text-align: justify;"> Sebagaimana diketahui, batubara menjadi sumber utama pengadaan sumber energi listrik nasional yang murah dan efisien, namun kekurangannya adalah menjadi salah satu sumber polusi dan limbah yang berbahaya bagi lingkungan.</p> <p style="box-sizing: border-box; margin: 0px 0px 10px; font-size: 15px; color: rgb(0, 0, 0); font-family: Montserrat, sans-serif; text-align: justify;"> Namun kini, limbah tersebut bisa dimanfaatkan tanpa merusak lingkungan. Malah, sebaliknya, hasil pengolahannya akan ramah lingkungan. Beton ini bisa dimanfaatkan untuk membangun jalan-jalan nasional dan berbagai macam infrastruktur, baik gedung, taman serta infrastruktur lain yang menggunakan bahan dasar beton. Beton ini ramah lingkungan dan bisa menyerap air. Sehingga, tidak lagi ada genangan-genangan air yang berdampak pada kelancaran lalu lintas, kecelakaan, bahkan kerusakan jalan.</p> <p style="box-sizing: border-box; margin: 0px 0px 10px; font-size: 15px; color: rgb(0, 0, 0); font-family: Montserrat, sans-serif; text-align: justify;"> Tidak hanya itu, beton ini sangat cocok dengan wilayah Indonesia yang sering menjadi langganan bencana alam, baik gempa bumi maupun tsunami. Indonesia termasuk dalam lingkungan cincin api (ring of fire) yang memiliki potensi bencana alam cukup tinggi. Indonesia memiliki sekitar 240 gunung merapi, 70 di antaranya masih aktif.</p> <p style="box-sizing: border-box; margin: 0px 0px 10px; font-size: 15px; color: rgb(0, 0, 0); font-family: Montserrat, sans-serif; text-align: justify;"> Menurut Kepala Pusat Inovasi LIPI, Nurul Taufiq Rochman, sebagaimana dikutip oleh koran-jakarta.com (23/7),  bangunan dengan beton ramah lingkungan ini jika terjadi gempa tidak akan menelan korban jiwa selayaknya beton-beton pada umumnya ketika jatuh atau menimpa manusia yang ada di bawahnya.</p> <p style="box-sizing: border-box; margin: 0px 0px 10px; font-size: 15px; color: rgb(0, 0, 0); font-family: Montserrat, sans-serif; text-align: justify;"> Beton ini sudah diterapkan untuk membangun beberapa infrastruktur di Jepang yang rawan akan terjadinya gempa bumi. “Di Jepang, beton ini biasa dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur beton penahan ombak karena kekuatannya sangat terjamin dan membangun taman-taman karena beton ini tidak panas jika diinjak dengan kaki telanjang,</p> <p style="box-sizing: border-box; margin: 0px 0px 10px; font-size: 15px; color: rgb(0, 0, 0); font-family: Montserrat, sans-serif; text-align: justify;"> sumber: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia</p>
Dari Limbah Batubara, Menjadi Beton Ramah Lingkungan
22 May 2018